Sifat
Mustahil Allah
A.
Menyebutkan
Sifat Mustahil Allah
Sifat
mustahil Allah adalah sifat yang tidak mungkin dimiliki Allah. Sifat mustahil
merupakan kebalikan dari sifat wajib Allah. Misalnya, bila Allah wajib bersifat
Wujud, mustahil Allah bersifat ‘Adam. Allah wajib bersifat Qidam, mustahil
Allah bersifat Huduts. Sifat wajib Baqa’ kebalikannya sifat mustahil Fana’.
Mukhalafatu lil-hawaditsi kebalikannya Mumatsalatu lil-hawaditsi, dan
lain-lain.
Adapun
sifat-sifat mustahil Allah seluruhnya adalah sebagai berikut: ‘Adam, Huduts,
Fana’, Mumatsalatu lil-hawaditsi, Qiayamuhu bighairihi, Ta’addud, Ajzu,
Karahah, Jahalah, Maut, Shummu, ‘Umyu, dan Bukmu.
Sifat-sifat
ini tidak mungkin dimiliki oleh Allah karena semuanya menunjukkan kelemahan.
Sedangkan Allah adalah zat yang sempurna. Allah tidak mungkin memiliki
kelemahan.
B.
Arti
Sifat-sifat Mustahil Allah, Berikut ini adalah sifat-sifat mustahil allah.
1. Adam
Sifat mustahil Allah yang pertama adalah
‘Adam. ‘Adam artinya tidak ada. Mustahil
Allah tidak ada. Kalau Allah tidak ada, lalu siapa yang mampu menciptakan alam
dan seluruh isinya? Siapa yang dapat menggerakkan matahari, bumi, bulan, dan
planet-planet lain? Tidak mungkin alam semesta tiba-tiba ada sendiri. Mustahil
planet-planet itu dapat bergerak sendiri. Hanya Allah yang mampu mengadakan
bumi, air, gunung, pohon, udara, dan juga diri kita.
2. Huduts
Huduts artinya baru. Mustahil Allah itu
baru. Allah adalah zat yang paling dahulu ada. Tetapi keberadaan Allah tak ada
permulaannya. Tidak seperti kita yang dahulu tidak ada sekarang menjadi ada
setelah diciptakan Allah melalui kandungan ibu. Kita adalah makhluk yang baru.
Sedangkan Allah bukan zat yang baru. Tidak mungkin Allah bersifat baru karena Dia-lah
sang Pencipta.
3. Fana’
Fana’ artinya binasa. Mustahil Allah bersifat
binasa. Keberadaan Al- lah tetap dan tidak akan berakhir. Sementara kita suatu
saat akan binasa atau meninggal. Binatang dan pepohonan akan mati. Alam dan
seluruh isinya akan hancur. Oleh karena itu, dunia ini biasanya disebut ‘alam
fana’. Yaitu alam yang suatu saat akan mengalami kehancuran. Kehancuran alam
yang paling besar, yaitu kelak pada hari kiamat. Saat itu hanya Allah saja yang
tinggal. Karena Allah tidak bersifat Fana’.
4. Mumatsalatu
Lil-Hawaditsi
Mumatsalatu lil-hawaditsi artinya
menyerupai semua makhluk. Allah tidak mungkin mirip dengan makhluk
ciptaan-Nya. Allah tidak boleh digambar
atau dibikin patung lalu disembah seolah-olah ia adalah Allah. Sebagai
Pencipta, Allah tidak mungkin mirip dengan benda hasil ciptaan-Nya. Misalnya,
seorang tukang kayu yang menciptakan bentuk kursi. Dia tentu tidak mirip dengan
kursi yang dibuatnya.
5. Qiyamuhu
Bighairihi
Qiyamuhu bighairihi artinya bergantung
kepada yang lain. Tidak mungkin Allah tergantung kepada orang. Sedangkan patung
yang dianggap tuhan oleh orang-orang jahiliyah tidak mampu berbuat apa-apa.
Patung sangat tergantung kepada orang yang membuatnya. Oleh karena itu, manusia tidak layak menyembah patung. Kalau
kita menyembah atau beribadah kepada Allah, bukan demi keuntungan Allah. Tetapi
demi keuntungan kita sendiri agar mendapat ridha-Nya. Allah tetap menjadi Tuhan
walaupun seandainya manusia tidak ada yang mau menyembah-Nya. Tetapi kalau kita
tidak beribadah kepada Allah, kita sendiri yang akan merugi.
6. Ta’addud
Ta’addud artinya berbilang. Allah tidak
berbilang. Allah itu Esa atau Tunggal. Allah hanya satu dan tidak mungkin Allah
ada bilangan-Nya. Misalnya, Allah pertama, kedua, ketiga, keempat, dan
seterusnya. Allah tidak mungkin berbilang seperti itu karena hal itu hanya
menunjukkan kelemahan Allah. Karena Allah itu Mahakuasa dan Mahakuat maka Dia tidak
membutuhkan teman. Dia-lah satu-satunya Allah.
7. Ajzu
Ajzu artinya lemah. Tidak mungkin Allah
bersifat lemah. Allah itu Mahakuat. Buktinya Allah tidak membutuhkan teman
untuk mengerjakanberbagai kehendak-Nya.
Kalau Allah lemah, tidak akan ada lagi yang mampu mengatur nafas kita,
tidak ada lagi yang mampu mengendalikan peredaran matahari, tidak ada lagi yang
menjaga peredaran planet-planet agar tidak saling bertabrakan. Tetapi ternyata
semuanya tetap baik-baik saja. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak mungkin
memiliki sifat lemah.
8. Karahah
Karahah artinya terpaksa. Mustahil Allah
bersifat terpaksa. Tidak ada satu pun yang mampu memaksa Allah. Kita memang
disuruh rajin berdoa kepada Allah. Apakah doa kita akan diterima atau ditolak,
semua terserah Allah. Kita tidak bisa memaksa Allah agar selalu mengabulkan doa
kita. Kalau doa kita dikabulkan, berarti Allah meridhai keinginan kita. Kalau doa
kita belum dikabulkan, berarti Allah telah mengetahui yang kita minta itu belum
ada manfaatnya untuk kita.
9. Jahalah
Jahalah artinya bodoh. Mustahil Allah
bersifat bodoh. Kalau Allah bodoh tentu tak dapat menciptakan alam semesta.
Kalau Allah bodoh, tentu semua manusia tidak akan ada yang pintar. Nyatanya
banyak manusia yang cerdas. Manusia mampu menciptakan peralatan rumah tangga, elektronik,
dan kendaraan. Manusia juga mampu menciptakan bahasa dan mengarang buku yang
berguna untuk meningkatkan ilmu pengetahuannya. Kalau manusia saja mempunyai
banyak kecerdasan seperti ini, pasti kecerdasan Allah jauh lebih besar lagi.
Kecerdasan Allah tidak dapat dibandingkan dengan kecerdasan manusia. Allah
adalah Pencipta manusia termasuk otaknya yang menjadi alat kecerdasannya. Maka
tidak mungkin Allah memiliki sifat bodoh.
10.
Maut
Maut artinya mati.
Mustahil Allah mengalami mati. Kalau Allah mati, siapa lagi yang bisa
menghidupi kita? Allah yang menciptakan jantung sehingga kita bisa bernafas.
Allah juga yang menjaga detak jantung agar kita tetap bisa bernafas walaupun
sedang tidur. Allah adalah zat yang menghidupkan manusia dan seluruh
makhluk-Nya. Oleh karena itu Al-lah tidak mungkin mati.
11.
Shummun
Shummu artinya tuli.
Tidak mungkin Allah tuli. Allah yang menciptakan telinga sehingga kita mampu
mendengar suara. Allah menyuruh kita berdoa. Kalau Allah tuli, lalu siapa yang
akan mendengar doa kita? Siapa yang akan mengabulkannya? Allah tidak mungkin
tuli. Karena Allah menjadi tempat kita mengadu dan meminta melalui doa dan
berbagai ibadah lainnya.
12.
Umyun
Umyu artinya buta.
Tidak mungkin Allah tak melihat amal perbuatan kita karena Dia-lah yang
memerintahkan agar kita selalu berbuat baik. Allah selalu mengawasi seluruh
perbuatan kita. Kalau kita berbuat baik akan diberi pahala. Kalau kita berbuat
buruk akan dicatat sebagai dosa. Jadi, Allah tidak mungkin buta.
13.
Bukmun
Bukmu artinya bisu.
Tidak mungkin Allah bisu. Allah menurunkan Al-Qur’an pertama kali berupa
perintah untuk membaca. Sekarang telah banyak
orang yang pintar membaca Al-Qur’an dan buku-buku bacaan lainnya. Sehingga
mereka mampu berpikir dan berkata-kata yang baik.
Allah-lah yang memerintahkan kita
agar mampu melakukan ini semua. Mana mungkin Allah bisu. Al-Qur’an merupakan
perkataan atau firman Allah yang harus dipelajari terus. Agar kita menjadi
orang yang mampu berkata benar, berbuat baik, dan mampu mengenal Allah,
walaupun kita belum pernah melihat Allah secara langsung.
Rangkuman
1.
a.
Adam artinya tidak ada
b.
Huduts artinya baru
c.
Fana’ artinya rusak/binasa
d.
Mumatsalatulil-hawaditsi artinya
menyerupai semua makhluk
e.
Qiyamuhu bighairihi artinya bergantung
pada yang lain atau tidak mandiri
f.
Ta’addud artinya berbilang
g.
Ajzu artinya lemah
h.
Karahah artinya terpaksa
i.
Jahalah artinya bodoh
j.
Maut artinya mati
k.
Summu artinya tuli
l.
Umyu artinya buta
m. Bukmu
artinya bisu

0 komentar
Posting Komentar