Jumat, 28 Desember 2018

peranan Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan aqidah akhlak merupakan suatu proses mendidik, memelihara, membentuk, dan memberikan latihan mengenai akhlak dan kecerdasan berpikir baik yang bersifat formal non formal maupun informal yang didasarkan pada ajaran-ajaran Islam. Pada sistem Pendidikan Islam ini khusus memberikan pendidikan tentang akhlaqul karimah agar dapat mencerminkan kepribadian seseorang.
Pendidikan akhlak Islam diartikan sebagai mental dan fisik yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan tanggung jawab dalam masyarakat selaku hamba Allah. Manusia adalah makhluk paling mulia yang diciptakan oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia akan tampak apabila pada dirinya melekat akhlak mulia. Sebaliknya manusia akan menjadi makhluk yang paling rendah nilainya, apabila manusia kehilangan kemanusiaannya yang dilekatkan oleh Allah kepada manusia.
Oleh karena itu, jika berpredikat Muslim benar-benar menjadi penganut agama yang baik maka harus menaati ajaran Islam dan menjaga agar Rahmat Allah tetap berada pada dirinya, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajarannya yang didorong oleh Iman sesuai dengan Aqidah Islamiyah. Untuk tujuan itulah manusia harus dididik melalui proses pendidikan Islam. Pendidikan akhlak Islam merupakan sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadian.
Dengan bekal ilmu dan akhlak, orang dapat mengetahui batas mana yang baik dan batas mana yang dilarang, juga dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang yang berakhlak dapat memperoleh irsyad, taufik, dan hidayah sehingga bahagia di dunia dan akhirat.
Akhlak mulia juga dapat dipupuk melalui proses melawan hawa nafsu. Seseorang memiliki akhlak mulia apabila dia dapat melawan dan menundukkan hawa nafsunya. Menundukkan hawa nafsu bukan bermakna membunuhnya tetapi hanya mengawali dan mendidiknya agar mengikuti panduan akal dan Agama.
Sasaran utama dalam Pendidikan Agama Islam disekolah adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu dari tiga subyek pelajaran yang harus dimasukkan dalam kurikulum setiap lembaga pendidikan formal Indonesia. Hal ini karena kehidupan beragama merupakan salah satu dimensi kehidupan yang diharapkan dapat terwujud secara terpadu dengan dimensi kehidupan lain pada setiap individu warga negara. Hanya dengan keterpaduan berbagai dimensi kehidupan tersebutlah kehidupan yang utuh sebagaimana yang dicita-citakan oleh bangsa dapat terwujud. Pendidikan Agama diharapkan mampu mewujudkan dimensi kehidupan beragama tersebut sehingga bersama-sama subyek pendidikan yang lain, mampu mewujudkan kepribadian individu yang utuh sejalan dengan pandangan hidup bangsa.
Dalam sistem pendidikan ini nilai-nilai keislaman yang ditanamkan pada peserta didik tidak terbatas melalui subyek pelajaran Pendidikan Agama Islam, tetapi juga melalui seluruh subyek pelajaran serta seluruh komponen atau faktor pendidikan. Bahkan dalam sistem ini, subyek Pendidikan Agama Islam sangat mungkin tidak diberikan secara khusus karena seluruh aspek subyek pelajaran tersebut dapat diintegrasikan ke dalam subyek pelajaran atau faktor pendidikan yang lain.
Dengan demikian, dalam sistem ini semua guru harus memiliki kepribadian Muslim dan sekaligus mampu menanamkan nilai-nilai keislaman melalui subyek pelajaran yang dia punya. Karena merupakan sistem pendidikan alternatif, maka secara kelembagaan Pendidikan Islam tidak ada dalam sistem pendidikan kita.
Pendidikan Keislaman merupakan salah satu macam pendidikan Keagamaan, yakni pendidikan yang secara khusus dimaksudkan untuk memberikan bekal profesional dibidang keagamaan kepada peserta didik.
Pendidikan ini diselenggarakan dalam rangka untuk mempersiapkan peserta didik agar kelak mampu mengemban tugas yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama Islam. Dengan demikian, ilmu-ilmu keislaman yang di ajarkan melalui subyek pelajaran. Pendidikan Agama Islam merupakan bekal untuk memberikan kualifikasi yang harus dimiliki oleh mereka setelah selesai mengikuti pendidikan tersebut. Karena itu, materi ilmu-ilmu keislaman merupakan materi pokok yang diajarkan dalam pendidikan ini.
Sesuai dengan tujuan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Nasional bahwa keberadaan Aqidah dan Akhlak sudah menjadi keharusan bagi umat khususnya untuk lembaga dalam proses mengajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam dimana dan kapan saja, karena Aqidah merupakan keyakinan-keyakinan yang benar terhadap hal-hal yang harus di Imani, sehingga tercermin dalam sikap dan tingkah lakunya sehari-hari, demikian juga Akhlak yang merupakan petunjuk untuk mencapai perbuatan baik serta menghindarkan diri dari perbuatan buruk.
Permasalahan yang terjadi dalam berbagai segi kehidupan manusia yang terwujud dalam berbagai tingkah laku : seperti pelanggaran, pencurian, perampokan, perjudian, pemerkosaan, dan yang lebih serius lagi adalah gencarnya pemakaian narkoba di kalangan anak didik. Perbuatan seperti itu sangatlah merusak masa depan bangsa.
Terjadinya permasalahan tersebut dikarenakan rendahnya Akhlak mereka, karena itu upaya pembinaan dan peningkatan Akhlak penting. Pendidikan Aqidah Akhlak dapat digunakan sebagai barometer (alat ukur) pribadi seseorang. Apabila yang menjadi ukuran itu dari faktor dalam diri manusia, maka tekanannya adalah akal, pikiran dan suara hati, kalau alat pengukur akhlak itu harus universal.
Seseorang tidak harus menggunakan alat ukur untuk mengetahui akhlak orang lain, tetapi kita harus mengetahui terlebih dahulu akhlak yang kita miliki, sehingga kita mampu mengetahui baik buruknya akhlak seseorang dengan memahami akhlak yang kita miliki, bahkan dapat pula mengetahui sempurna atau tidaknya iman seseorang. Dengan kata lain makin sempurna Akhlaknya makin sempurna pula iman seseorang dan sebaliknya makin rusak iman makin rusak pula iman seseorang, seperti hadits berikut :
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang baik akhlaknya. (HR. Ahmad).
Membina akhlak merupakan bagian  yang sangat penting dalam tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Akan tetapi hal ini tidak relevan dengan tujuan pendidikan yang mana  banyak tindakan kriminal yang dilakukan para anak didik dan seringnya terjadi tawuran  antar pelajar disinyalir sebagai akibat dari ketidakberhasilan pembinaan akhlak dan budi pekerti pada siswa. Kegagalan pembinaan akhlak akan menimbulkan masalah yang sangat besar, bukan saja pada kehidupan bangsa saat ini tetapi juga masa yang akan datang ini pada posisi yang sangat penting, bahkan membina akhlak merupakan inti dari ajaran  Islam.
Menurut kepala sekolah SDN I Cigadog Bpk. Didin Kamiludin, S.Pd.SD mengatakan faktor yang menjadi penyebab terjadinya kenakalan anak didik yaitu terletak diantara guru, siswa, dan orang tua, tetapi harus diteliti dimana letak kekurangan mereka, karena mereka saling berkaitan satu sama lain dan saling menunjang untuk tercapainya proses belajar mengajar yang sempurna baik pelajaran umum maupun pelajaran aqidah akhlak itu sendiri. Faktor yang melatar belakanginya yaitu:
1.    Longgarnya pegangan terhadap agama, dengan longgarnya pegangan nilai-nilai agama dalam diri seseorang maka hilanglah kekuatan pengontrol dalam diri orang tersebut.
2.    Kurangnya interaksi guru akidah akhlak dengan siswa siswi di SDN I Cigadog.
3.    Kurang efektifnya pembinaan aqidah dan akhlak yang dilakukan oleh orang tua, sekolah, maupun masyarakat.
4.    Kurangnya tepatnya metode pembelajaran guru akidah akhlak dalam proses pembelajaran di SDN I Cigadog
5.    Kurangnya kerjasama antara guru dengan orang tua.
6.    Faktor ekonomi keluarga sehingga anak mencuri
7.    Kurangnya minat terhadap pembelajaran akidah dan akhlak
8.    Dampak kurang pengawasan intensif terhadap perkembangan dan kemajuan IPTEK
Pendidikan Agama Islam khususnya pendidikan Aqidah Akhlak yang telah diterapkan dalam program Pendidikan Nasional boleh dikatakan kurang berhasil. Dengan bukti makin banyaknya kerusakan moral yang terjadi dikalangan anak didik. Hal ini terjadi karena beberapa sebab diantaranya:
1.    Kurang atau minimnya waktu pelaksanaan pendidikan agama Islam yang diberikan, khususnya materi pembelajaran Aqidah Akhlak, padahal pembelajaran Aqidah Akhlak mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku peserta didik. Karena pembelajaran Aqidah Akhlak menyangkut pembiasaan sikap atau perilaku yang baik yang telah menjadi tujuan Pendidikan Nasional dan Pendidikan Agama Islam,
2.    Tentang proses pembelajaran Aqidah Akhlak di sekolah, dimana norma-norma Aqidah Akhlak yang telah diformulasikan dalam teori-teori tidak dapat dijabarkan dalam langkah-langkah nyata, hal ini sangatlah memprihatinkan terhadap perkembangan perilaku siswa.
Guru pendidikan agama Islam merupakan salah satu ujung tombak yang menjadi tumpuan harapan masyarakat, bangsa dan negara dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah. Hal ini menandakan bahwa kunci keberhasilan pendidikan agama Islam di sekolah berada di tangan guru pendidikan agama Islam.
Banyak upaya yang dilakukan guru dalam aplikasinya yaitu untuk menekan kenakalan siswa upaya yang dilakukan seorang guru yaitu dengan melakukan upaya atau tindakan yang bersifat atau bertujuan untuk mencegah timbulnya kenakalan, namun pada kenyataannya masih tetap saja banyak keluhan pada setiap lembaga pendidikan berkaitan dengan masalah kenakalan siswa, begitu pula dilembaga pendidikan SDN I Cigadog, yang mana telah banyak memberikan pendidikan agama kepada siswa-siswinya tetapi tetap saja sering terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan sekolah dan tingkah laku siswa yang menyimpang seperti bolos sekolah, mencuri, suka mengganggu teman, mengucapkan kata-kata kotor. Oleh karena itu guru aqidah akhlak mempunyai peran penting dalam mengatasi kenakalan siswa dan membantu dalam pembinaan kepribadian siswa. Berangkat dari uraian di atas serta melihat kenyataan yang demikian itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan temaUpaya Guru Aqidah Akhlak Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa Di SDN I Cigadog
B.       Identifikasi masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.        Longgarnya pegangan terhadap agama, dengan longgarnya pegangan nilai-nilai agama dalam diri seseorang maka hilanglah kekuatan pengontrol dalam diri orang tersebut.
2.        Kurangnya interaksi guru akidah akhlak dengan siswa siswi di SDN I Cigadog.
3.        Kurang efektifnya pembinaan aqidah dan akhlak yang dilakukan oleh orang tua, dan guru.
4.        Kurangnya tepatnya metode pembelajaran guru akidah akhlak dalam proses pembelajaran di SDN I Cigadog
5.        Kurangnya kerjasama antara guru dengan orang tua.
6.        Faktor ekonomi keluarga.
7.        Kurang sukanya siswa terhadap pembelajaran akidak dan akhlak
8.        Dampak kurang pengawasan intensif terhadap perkembangan dan kemajuan IPTEK
C.      Pembatasan Masalah.
Untuk memperoleh pemantapan dan tempat berpijak dalam pembahasan serta menghindari kesalahpahaman terhadap judul yang dimaksud, maka penulis membatasi dari beberapa masalah menjadi tiga masalah yang akan di bahas dlam judul profosal ini.
1.      Kurang efektifnya pembinaan aqidah dan akhlak yang dilakukan oleh guru dan orang tua.
2.      Kurangnya tepatnya metode pembelajaran guru akidah akhlak dalam proses pembelajaran di SDN I Cigadog  
D.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara pembinaan yang efektif yang dilakukan oleh guru akidah akhlak dan orang tua  terhadap siswa siswi di SDN I Cigadog ?
2.      Bagaimana metode yang tepat dalam mengatasi kenakalan siswa siswi yang ada di SDN I Cigadog?

E.       Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini penulis bertujuan untuk mengetahui tentang :
1.    Untuk mengetahui Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar Akidah Akhlak di SDN I Cigadog;
2.    Untuk mengetahui kondisi akhlak siswa sehari-hari di SDN I Cigadog;
3.    Untuk  mengetahui  hubungan  antara  Aktivitas  siswa   dalam  proses  belajar mengajar   Akidah   Akhlak  dengan  akhlak  anak  didik    di  SDN I Cigadog;
F.       Kegunaan Penelitian
            Adapun kegunaan penelitian dalam proposal skripsi ini adalah:
1.      Bagi Peneliti:
a.       Sebagai proses pembelajaran bagi peneliti dalam menambah ilmu pengetahuan serta wawasan keilmuan, dan pendidikan pada umumnya, sekaligus untuk mengembangkan pengetahuan penulis dengan landasan dan kerangka teoritis yang ilmiah atau pengintegrasian ilmu pengetahuan dengan praktek serta melatih diri dalam research ilmiah.
b.      Untuk memenuhi tugas dan sebagai bahan penyusunan skripsi serta ujian munaqosyah yang merupakan tugas akhir penulis untuk memperoleh gelar sarjana Strata satu (S1) pada jurusan Pendidikan Agama Islam STAIM Garut.
2.      Bagi Obyek Penelitian
a.    Sebagai sumbangan pemikiran ke dalam dunia pendidikan khususnya di SDN I Cigadog .
b.    Sebagai bahan masukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan sekaligus peningkatan akhlak siswa di SDN I Cigadog.
c.    Sebagai bahan evaluasi terhadap kurikulum yang ditetapkan di SDN I Cigadog .
3.      Sebagai bahan Sebagai sumbangan kepada STAIM Garut, khususnya kepada perpustakaan sebagai bahan bac aan yang bersifat ilmiah dan sebagai kontribusi khazanah intelektual pendidikan.

G.      Kerangka Pemikiran

Dalam dunia pendidikan ada yang dinamakan proses kegiatan belajar mengajar. Dari dua ungkapan belajar dan mengajar akan terlintas ada murid dan guru. Dua komponen ini lah akan mengahsilkan interaksi belajar mengajar, logika sederhana mengatakan: ada murid, tetapi tidak ada guru proses belajar dan mengajar tidak akan tercapai begitu juga sebaliknya.
Hal itu dipertegas oleh Mohammad Ali. (1987:1), mengatakan:   "mengajar merupakan inti dari proses pendidikan, sementara pengajaran merupakan inti dari proses belajar siswa, karena itu keduanya tidak bisa dipisahkan, artinya guru tidak bisa dipisahkan dengan murid”. Berdasarkan ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa ada guru dan murid berarti ada pengajaran atau ada materi yang diberikan oleh guru kepada murid. Namun persoalannya bagaimana materi pelajaran itu bisa diterima dihadapan murid sebagai aktivitas dalam menuntut ilmu dan berakhlak?
Aktivitas menurut kamus bahasa Indonesia Pendidikan Pengajaran dan umum diartikan sebagai kegiatan, kesibukan.  Aktivitas adalah kerja, semacam kegiatan seseorang baik yang bersifat fisik jasmani maupun bersifat rohani.
Kaitanya dengan proses belajar mengajar bahwa proses belajar mengajar ini merupakan dua proses atau kegiatan yang tidak bisa dipisahkan. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melukan proses belajar. Pada tahap berikutnya adalah proses memberikan bimbingan dan bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.
Secara etimologi, kata akhlak berasal dari bahasa Arab ( (أخــلاقbentuk jamak mufrodnya  khuluk (خلق), yang berarti “budi pekerti”. Akhlak secara bahasa diartikan sebagai perangai, tabi’at, adat, atau sistem perilaku yang dibuat.  Istilah budi pekerti sering kali dipersamakan dengan istilah sopan santun, susila, moral, etika, adab atau akhlak. Kesemua istilah itu memiliki makna yang sama, yaitu sikap, perilaku, dan tindakan individu yang mengacu pada norma baik-buruk dalam hubungannya dengan sesama individu, anggota keluarga, masyarakat, hidup berbangsa, bernegara bahkan sebagai umat beragama, yang bertujuan untuk kebaikan dan peningkatan kualitas diri dalam mengarugi kehidupan sehari-hari.
Pembinaan akhlak merupakan tujuan terpenting dari pendidkan agama Islam. Rasul sendiri diutus kedunia ini untuk menyempurnakan akhlak sebagaimana beliau bersabda dalam hadistnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
انـّـمـا بعـت لأتـمـّـم مـكارم الأخــلاق
“Sesunggunya Aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak”
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang mempunyai potensi yang dapat menjadikannya sebagai makhluk yang paling sempurna. Namun tak dapat dipungkiri bahwa selain membawa potensi yang baik, manusia juga diciptakan dengan membawa potensi negative yang dapat menjadikan dirinya sama dengan binatang bahkan lebih rendah dari binatang.
Salah satu fakta yang menyebabkan degradasi akhlak di kalangan siswa ini adalah kurangnya pembinaan akhlak terhadap mereka. Hal ini mendorong para pendidik untuk secara intensif membina akhlak remaja baik di lingkungan keluarga, masyarakat, atau pun sekolah-sekolah umum, termasuk di lembaga pendidikan umum dan kejuruan.
Menurut Al-Ghazali yang pendapatnya dikutip oleh Hamzah Ya’qub, “ Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuata-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pemikiran (lebih dahulu). Ibnu Maskawih yang dikutip oleh Abudin Nata. (1997:3), menjelaskan:  “memberikan batasan akhlak dengan gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan dengan tidak menghajatan fikiran”.
Akhlak dalam tataran konsep praktis dikehidupan sehari-hari selalu dikaitkan dengan etika. Kata yang cukup dekat “etika” adalah “moral”.  Sebagian orang berpandangan bahwa moral merupakan tataran aplikasi dari akhlak seseorang. Kata terahir ini berasal dari bahasa Latin Mos (jamak :Mores) yang berarti juga kebiasaan, adat. Dalam bahasa Inggris dan bahasa lain, termasuk dalam bahasa Indonesia (pertama kali dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988) kata mores masih dipakai dalam arti yang sama. Jadi, etimologi kata “etika” sama dengan etimologi kata “moral”, karena keduanya berasal dari adat kebiasaan. Hanya bahasa asalnya berbeda : yang pertama berasal dari bahasa Yunani, sedangkan yang kedua dari bahasa Latin.
Etika dijelaskan dengan membedakan tiga arti, yaitu :
1.      Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlah);
2.      Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
3.      Nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
Akhlak adalah perbuatan, tindak tanduk seseorang yang dilakukan dengan mudah tanpa banyak pertimbangan, dengan lancar tanpa merasa sulit ia lakukan. Sehingga perbuatan dan tindak tanduk yang dilakukan dengan terpaksa atau merasa berat untuk berbuat belumlah dikatakan akhlak. Orang yang baik akhlaknya ialah yang bersikap lapang dada, peramah, pandai bergaul, tidak menyakiti orang lain, lurus benar, tidak berdusta, sedikit berbicara banyak kerja, sabar (tabah) dalam perjuangan, tahu berterimakasih, di percaya, tidak memfitnah, tidak dengki, baik dengan tetangga, kata-kata dan perbuatanya disenangi orang lain..
Kata akhlak berarti budi pekerti, dalam kehidupan sehari-hari budi pekerti memang mempunyai peran yang amat penting bagi manusia, baik bagi pribadi maupun orang lain. Jadi yang dimaksud akhlak disini adalah prilaku sopan santun siswa yang merupakan realisasi hasil proses belajar mengajar. Syari’at Islam tidak dapat dihayati dan diamalkan kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus di didik melalui proses pendidikan. Nabi SAW telah mengajarkan untuk beriman dan beramal serta berakhlak yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Tujuan dari pendidikan ini adalah membina insan paripurna yang taqarub kepada Allah, bahagia di dunia dan akhirat .
Berdasarkan uraian diatas, penulis sampaikan bahwa indikator perilaku akhlak siswa meliputi : 1) Akhlak terhadap Allah, yang meliputi : taqwa, berdo’a, ikhlas, dan ridhlo. 2) Akhlak terhadap sesama manusia, yang meliputi : ishlah, saling tolong menolong, ukhuwah atau persaudaraan, menjenguk orang yang sakit. 3) Akhlak terhadap diri sendiri, yang meliputi : wafa, tawadlu, muru’ah .
H.       Hipotesis
Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Apabila para peneliti telah mendalami permasalahan penelitianya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, lalu membuat suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu diuji (dibawah kebenaran), inilah hipotesis.
Hipotesis pada Penelitian kualitatif adalah hipotesis non-statistik, tidak membutuhkan pengujian statistik bersifat sementara dan dapat berubah-ubah sewaktu pengumpulan dan analisis data. Penelitian kualitatif dilakukan apabila kurang atau tidak ada teori yang mendukung suatu penelitian, yang dilakukan adalah mencari tahu teori terlebih dulu melalui penelitian kualitatif, tidak didasarkan atas teori yang kuat, hipotesis dapat dicantumkan atau tidak karena sudah dapat diambil alih oleh rumusan masalah dan tidak perlu pembuktian statistik apakah diterima atau ditolak. Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah tidak dapat digeneralisasikan, tidak bisa diberlakukan secara universal.

I.     Langkah-Langkah Penelitian

Dalam penelitian ini penulis akan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :
a.    Menetukan Jenis data
            Data hasil pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta ataupun angka. Dari sumber SK Menteri P dan K No. 0259/U/1977, tanggal 11 Juli 1977 disebutkan bahwa: “Data adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi, sedangkan informasi adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan.”
            Dalam pengertian lain disebutkan data adalah suatu hal yang diperoleh di lapangan ketika melakukan penelitian dan belum diolah. Dengan pengertian lain segala keterangan mengenai variable yang diteliti di sebut data, suatu hal yang dianggap atau diketahui.Data menurut jenisnya dibagi menjadi dua:       
a)   Data Kualitatif
            Yaitu data yang disajikan dalam bentuk kata verbal, bukan dalam bentuk angka. Data inilah yang menjadi data primer (utama) dalam penelitian ini. Yang termasuk data kualitatif adalah:
1)      Gambaran umum SDN I Cigadog;
2)      Konsep Kurikulum SDN I Cigadog;
3)        Literatur-literatur mengenai Kurikulum SDN I Cigadog dan peningkatan akhlak siswa;
4)      Gambaran tentang kebiasaan siswa dalam sehari-harinya;
5)      Dokumen-dokumen tertulis yang berhubungan dengan penelitian penulis.
b)   Data Kuantitatif
Yaitu data yang berbentuk angka statistik. Dalam penelitian ini data statistik hanya bersifat data pelengkap, jenis data ini didapatkan dari isian angket.
b.   Menentukan Sumber Data
Arikunto menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sumber data adalah “subyek dari mana data diperoleh”. Sedangkan menurut Lofland sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis.
Menurut sumber data dalam penelitian ini, data dibedakan menjadi dua macam yakni:
a)   Sumber Data Primer
Yaitu sumber yang langsung memberikan data kepada peneliti, di antaranya adalah:
1)   Kepala SDN I Cigadog .
2)   Wakil Kepala dan bidang Kurikulum SDN I Cigadog .
3)   Guru mata Pelajaran Akidah Akhlak.
4)   Segenap siswa SDN I Cigadog.
b)   Data Sekunder
Yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, seperti dokumentasi mengenai kurikulum, dan literatur-literatur mengenai pendidikan dan  peningkatan  akhlak  siswa.     Sedangkan  untuk  landasan  teoritiknya     penulis menggunakan buku yang  relevan dengan  masalah  penelitian serta dapat mengungkapkan teori-teori yang ada kaitanya dengan penelitian.
Adapun sumber- sumber data tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu : Person ; Place ; Paper.
1)   Person yaitu sumber data yang bias memberikan data berupa jawaban lisan melalui wawancara atau interview . Yang termasuk sumber data ini adalah kepala sekolah , Guru aqidah akhlak , siswa , serta semua pihak yang terkait dengan kegiatan pembelajaran pendidikan agama islam .
2)   Place yaitu Sumber data ini dapat memberikan gambaran situasi , kondisi , pembelajaran yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian  Misalnya : gedung sekolah , ruang kelas , masjid atau musholla sekolah .
3)   Paper yaitu Sumber data yang menyajikan data – data berupa  huruf , angka , gambar , dan symbol – symbol yang lain. Data ini diperoleh melalui metode dokumentasi yaitu berupa : daftar guru dan arsip yang masih relevan dengan penelitian ini .
Sumber data nomor satu dan dua merupakan sumber data yang bersifat umum, karena menghasilkan data berupa kata-kata dan pelaku atau tindakan, sedangkan sumber data yang nomor tiga merupakan sumber data tambahan, karena untuk memperoleh data dirinya diperlukan metode dokumentasi.Dari ketiganya penulis jadikan sebagai sumber utama yang dituangkan dalam catatan tertulis untuk kemudian disajikan dalam skripsi sebagai hasil usaha gabungan hasil melihat, mendengar, bertanya dan mencatat untuk memperkaya data. Hal tersebut dilakukan secara sadar dan terarah, karena memang dari berbagai macam informasi yang tersedia tidak seluruhnya akan digali oleh peneliti.
Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.    Kata- kata dan Tindakan
Data yang berbentuk kata- kata ini diambil dari para responden atau informan pada waktu kegiatan wawancara langsung. Jadi data ini berupa keterangan dari para responden atau informan.
Sedangkan data yang berbentuk tindakan, diperoleh dari kegiatan observasi yang mengamati tentang bagaimana Aktivitas Siswa Dalam Proses Pembelajaran Aqidah Akhlak di SDN I Cigadog.
2.    Data Tertulis
Data yang berbentuk tulisan ini diperoleh dari pihak SDN I Cigadog, yang tentunya berkaitan dengan subyek penelitian, yaitu tentang Bentuk-bentuk Akhlak Peserta Didik yang ada di SDN I Cigadog beserta faktor-faktor yang melatar belakangi kenakalan tersebut.
Data dalam penelitian ini adalah semua data atau informasi yang diperoleh dari para informan yang dianggap paling mengetahui secara rinci dan jelas mengenai focus penelitian yang diteliti. Selain itu, data juga diperoleh dari hasil dokumentasi yang menunjang terhadap data yang berbentuk kata-kata tertulis maupun tindakan.
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengeksplorasi jenis data kualitatif yang terkait dengan masing-masing focus penelitian yang sedang diamati. Sumber data dalam penelitian ini ialah terkait dengan dari mana data tersebut diperoleh. Data ini dapat diperoleh dari  guru-guru terutama guru aqidah akhlak, siswa, dan sumber-sumber lain yang dimungkinkan dapat memberikan informasi.
c.    Tehnik Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian selalu ada prosedur pengumpulan data dan data tersebut terdapat bermacam-macam jenis metode. Jenis metode yang digunakan dalam pengumpulan data disesuaikan dengan sifat penelitian yang dilakukan. Untuk memperoleh data yang sebanyak-banyaknya kemudian disajikan dalam skripsi dengan pendekatan kualitatif yang berisi kutipan-kutipan data, maka peneliti telah menentukan tempat penelitian yang telah ditentukan dengan menerapkan teknik pengumpulan data sebagai berikut.
a.    Metode observasi
Metode observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Adapun pengertian lain  observasi atau  pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan panca indra maka sebagai alat bantu utamanya selain panca indra lainnya, seperti telinga, dan mulut, kulit dan lain-lain, yang dimaksud metode observasi yaitu metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian, data penelitian tersebut dapat diamati oleh peneliti. Observasi juga diartikan sebagai suatu pengamatan dan pencatatan dengan fenomena yang diselidiki, dalam arti luas sebenarnya observasi tidak hanya terbatas pada keadaan pengamatan secara lagsung.Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam kenyataan.
Menurut Guba dan Lincoln yang dikutip Moleong metode ini dimanfaatkan karena beberapa alasan , yaitu :
1.    teknik pengamatan ini didasarkan atas pengalaman secara langsung
2.    teknik pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
3.    pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalm situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proposional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh data.
4.    sering terjadi ada keraguan pada peneliti , jangan pada data yang dijaringnya ada yang “keliru “ atau bias.
5.    teknik pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi – situasi yang rumit.
6.    dalam kasus-kasus tertebtu dimana teknik  komunikasi lainnya tidak memungkinkan , pengamatan menjadi alat yang sangat bermanfaat .  Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang keadaan sekolah, sarana dan prasarana pendidikan dan lain-lain yang berkaitan dengan riset. Peneliti menggunakan teknik ini karena memungkinkan bagi peneliti untuk melihat dan mengamati sendiri fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan dan memudahkan dalam bentuk tulisan. Dengan komunikasi dan interaksi, peneliti mendapatkan kesempatan untuk mengetahui kebiasaan dan aktifitas subyek, sehingga tidak dianggap orang asing, melainkan sudah warga sendiri. Dengan metode observasi ini, peneliti semakin dekat dengan subyek yang diteliti.
b.    Metode interview/ wawancara
Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden orang yang diwawancarai. Interview atau wawancara merupakan cara pengumpulan data degan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penelitian.[21] Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara peneliti dengan subyek. Dalam wawancara biasanya terjadi tanya jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berpijak pada tujuan penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto metode interview dibagi menjadi 3 macam:
1.    Interview bebas (Ingaudet interview), dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi mengingat juga akan data apa yang akan dikumpulkan.
2.    Interview terpimpin ( guidet interview), yaitu interview yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sedretan pertanyaaan lengkap dan terperinci seperti yang dimaksudkan dalam interview instruktur.
3.    Interview bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara interview bebas dan interview terpimpin. Dalam melaksanakan pewawancara menbawa pedoman yang hanya garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan.
Berdasarkan dengan tiga metode interview diatas, maka peneliti dalam melaksanakan penelitian menggunakan metode interview bebas terpimpin, yaitu peneliti membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan yang ada kaitannya dengan fokus penelitian. Melalui tehnik wawancara, peneliti mengadakan komunikasi langsung dan melakukan tanya jawab kepada kepala sekolah, guru, dan siswa untuk memperdalam informasi yang diperoleh dari tehnik pengumpulan data yang lain. Metode ini untuk memperoleh informasi tentang kenakalan siswa dan upaya menanggulangi kenakaln siswa di SDN I Cigadog. Pengajuan pertanyaan dilakukan secara bebas kepada subyek menuju fokus penelitian dan dilakukan dalam suasana biasa sehingga tidak telihat kaku. Setelah selesai wawancara, peneliti menyusun hasil wawancara sebagai hasil catatan dasar sekaligus abstraksi untuk keperluan analisis data. Wawancara ini peneliti tujukan kepada siswa yang bertingkah laku baik dan buruk, juga guru aqidah akhlak yang melakukan internalisasi nilai-nilai akhlak.
Dalam hal ini, penulis berinteraksi langsung dengan guru dan murid serta pihak-pihak yang terkait dengan fokus penelitian guna memperoleh data, sehingga validitas data tersebut akurat.
c.    Catatan lapangan
Dalam penelitian kualitatif, peneliti dianjurkan membuat field note agar tidak lupa terhadap data yang diperoleh. Bogdan dan Biklen menyatakan sebagaimana yang dikutip Ahmad Tanzeh dan Suyitno, bahwa catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif yang didalamnya mengandalkan metode observasi dan interview dalam pngumpulan data, peneliti dianjurkan membuat field note agar tidak lupa terhadap data yang diperoleh. Maka peneliti selalu membuat fild note setiap melakukan metode penelitian, terutama hasil interview dan wawancara.
Catatan lapangan dimaksudkan untuk melengkapi data yang tidak terekam dalam instrumen pengumpulan data yang ada. Dengan demikian diharapkan tidak ada data penting yang terlewatkan dalam kegiatan penelitian ini.
d.   Metode  dokumentasi
Dokumentsi yaitu mengumpulkan data dengan melihat atau mencatat suatu laporan yang sudah tersedia. Adapun pengertian lain dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip buku, surat kabar dan lain-lain.
Metode dokumentasi untuk dijadikan alat pengumpul data dari sumber bahan tertulis yang terdiri dari dokumen resmi. Peneliti mencatat dan memfotocophi dokumen yang berkaitan dengan data yang diperlukan kemudian penelitin mengumpulkan data-data yang diperoleh antara lain struktur organisasi sekolah, geografis sekolah keadaan guru, keadaan siswa denah lokasi, dan lain-lain yang berkaitan dengan judul skripsi ini. Dokumen dikumpulkan baik dari dokumen pribadi seperti catatan maupun dokumen resmi di lokasi penelitian (sekolah).
4.    Tehnik Analisa Data
Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategorisasi dan satuan uraian dasar. Sementara itu Bogdan dan Biklen mengemukakan, sebagaimana yang dikutip Ahmad Tanzeh dan Suyitno, bahwa analisa data adalah “Proses pencarian dan pengaturan secara sistematik hasil wawancara, catatan-catatan dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap semua hal yang dikumpulkan dan menyajikan apa yang ditemukan”. Hal ini diperkuat dengan pendapat noeng muhadjir yang mana mengungkapkan analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (meaning).
Miles dan Huberman mengatakan sebagaimana dikutip Ahmad Tanzeh dan Suyitno, analisis data interaktif (interaktif model) terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu : (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan kesimpulan. Ketiga alur tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:
a.    Reduksi Data
Data yang diperoleh peneliti dari lapangan jumlahnya cukup banyak untuk itu  perlu dicatat lebih teliti dan rinci. Semakin lama peneliti terjun kelapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit.
Miles dan Huberman mengatakan, sebagaimana dikutip Ahmad Tanzeh dan Suyitno, reduksi data merupakan suatu kegiatan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah yang didapat dari catatan-catatan yang tertulis di lapangan.  Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa reduksi data berlangsung terus–menerus selama penelitian.
Setelah itu disederhanakan, disusun secara sistematis dan dijabarkan hal-hal yang penting tentang hasil temuan dan maknanya. Dalam proses reduksi data ini, banyak data temuan yang berkenaan dengan masalah penelitian saja yang dipakai. Sedangkan data yang tidak relevan dengan masalah penelitian dibuang. Dengan kata lain reduksi data merupakan analisis yang menggolongkan, menajamkan, mendengarkan, membuang yang tidak penting dan menggorganisasikan data sehingga memudahkan peneliti dalam menarik kesimpulan. Data yang penulis peroleh dilapangan, penulis pilih dan kelompokkan sesuai dengan fokus penelitian sehingga data akan lebih mudah dipahami dan dimengerti hingga akhir data dapat disajikan dengan baik. 
b.    Penyajian data
Proses penyajian data ini merupakan proses penyusunan informasi secara sistematis yang memberikan kemungkinan ditarik kesimpulan. yang mana kesimpulan tersebut merupakan hasil temuan penelitian karena data yang didapat berupa kata-kata atau kalimat yang berhubungan dengan fokus penelitian.
Dalam penelitian ini data yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian singkat dan teks  bersifat naratif. Karena dalam penelitian ini, data yang didapat berupa kalimat, kata-kata yang berhubungan dengan fokus penelitian, sehingga sajian data merupakan sekumpulan informasi yang tersusun secara sistematis yang memberikan kemungkinan untuk ditarik kesimpulan. Dengan kata lain, proses penyajian ini merupakan proses penyusunan informasi secara sistematis dalam rangka memperoleh kesimpulan-kesimpulan berbagai temuan penelitian.
c.    Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan  dilakukan pada saat analisis data yang berlangsung secara terus menerus selesai dikerjakan, baik yang berlangsung di lapangan maupun setelah selesai di lapangan. Untuk mengarah pada hasil kesimpulan ini tentunya berdasarkan hasil analisis data, baik yang berasal dari catatan lapangan, observasi, dokumentasi dan lain-lain yang didapatkan pada saat melaksanakan kegiatan lapangan. Metode yang terakhir digunakan adalah metode komparatif, yaitu "metode yang digunakan untuk membandingkan data-data dari keterangan yang berkaitan dengan permasalahan kemudian ditarik kesimpulan".
Analisis deskriptif dalam penelitian ini adalah berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, dokumentasi pribadi, dan dokumentasi resmi lainya. Jadi pada penelitian ini, peneliti akan menganalisis data yang telah ditentukan tersebut dengan menggunakan pertanyaan dengan kata tanya “apakah”, “apa”, “kapan” dan “bagaimana” akan dipakai oleh peneliti. Dengan demikian, peneliti tidak memandang bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya.
Adapun langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam pengumpulkan data adalah sebagai berikut:
1)   Membuat ringkasan dan mengedit hasil wawancara sementara. Jadi setiap melakukan wawancara dengan siswa, guru atau yang lainya, maka kemudian hasilnya diringkas dan diedit mana yang sekiranya dan sudah sesuai.
2)   Mengembangkan pertanyaan selama wawancara. Jadi setiap pertanyaan dalam wawancara, selalu peneliti kembangkan guna menggali data yang lebih dalam.
3)   Mempertegas focus penelitian. Selama penelitian, penulis selalu memperhatikan focus penelitian, hal ini bertujuan agar setiap data yang dikumpulkan tetap dalam lingkup focus penelitian ataupun sesuai dengan focus penelitian.
 Dengan menggunakan metode-metode tersebut data yang telah terkumpul dianalisis. Dalam tahapan analisa ini penulis berusaha untuk menarik kesimpulan terhadap data-data yang diperoleh dari lokasi selama penelitian berlangsung. Dengan tahap ini diharapkan dapat menjawab semua masalah yang telah dirumuskan dalam fokus penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya.
 

0 komentar