BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pendidikan aqidah akhlak merupakan
suatu proses mendidik, memelihara, membentuk, dan memberikan latihan mengenai
akhlak dan kecerdasan berpikir baik yang bersifat formal non
formal maupun informal yang didasarkan pada ajaran-ajaran Islam. Pada sistem
Pendidikan Islam ini khusus memberikan pendidikan tentang akhlaqul karimah agar
dapat mencerminkan kepribadian seseorang.
Pendidikan akhlak Islam
diartikan sebagai mental dan fisik yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi
untuk melaksanakan tugas kewajiban dan tanggung jawab dalam masyarakat selaku
hamba Allah. Manusia adalah makhluk
paling mulia yang diciptakan oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia akan tampak
apabila pada dirinya melekat akhlak mulia. Sebaliknya manusia akan menjadi
makhluk yang paling rendah nilainya, apabila manusia kehilangan kemanusiaannya
yang dilekatkan oleh Allah kepada manusia.
Oleh karena itu, jika
berpredikat Muslim benar-benar menjadi penganut agama yang baik maka harus
menaati ajaran Islam dan menjaga agar Rahmat Allah tetap berada pada dirinya,
memahami, menghayati, dan mengamalkan ajarannya yang didorong oleh Iman sesuai
dengan Aqidah Islamiyah. Untuk tujuan itulah manusia harus dididik melalui
proses pendidikan Islam. Pendidikan akhlak Islam merupakan sistem pendidikan
yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai
dengan cita-cita Islam karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai
corak kepribadian.
Dengan bekal ilmu dan akhlak, orang dapat
mengetahui batas mana yang baik dan batas mana yang dilarang, juga dapat
menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang yang berakhlak dapat memperoleh
irsyad, taufik, dan hidayah sehingga bahagia di dunia dan akhirat.
Akhlak
mulia juga dapat dipupuk melalui proses melawan hawa nafsu. Seseorang memiliki
akhlak mulia apabila dia dapat melawan dan menundukkan hawa nafsunya.
Menundukkan hawa nafsu bukan bermakna membunuhnya tetapi hanya mengawali dan
mendidiknya agar mengikuti panduan akal dan Agama.
Sasaran
utama dalam Pendidikan Agama Islam disekolah adalah untuk menumbuhkan dan
meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan,
pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim
yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya, berbangsa dan
bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih
tinggi.
Pendidikan
Agama Islam merupakan salah satu dari tiga subyek pelajaran yang harus
dimasukkan dalam kurikulum setiap lembaga pendidikan formal Indonesia. Hal ini
karena kehidupan beragama merupakan salah satu dimensi kehidupan yang
diharapkan dapat terwujud secara terpadu dengan dimensi kehidupan lain pada
setiap individu warga negara. Hanya dengan keterpaduan berbagai dimensi
kehidupan tersebutlah kehidupan yang utuh sebagaimana yang dicita-citakan oleh
bangsa dapat terwujud. Pendidikan Agama diharapkan mampu mewujudkan dimensi
kehidupan beragama tersebut sehingga bersama-sama subyek pendidikan yang lain,
mampu mewujudkan kepribadian individu yang utuh sejalan dengan pandangan hidup
bangsa.
Dalam
sistem pendidikan ini nilai-nilai keislaman yang ditanamkan pada peserta didik
tidak terbatas melalui subyek pelajaran Pendidikan Agama Islam, tetapi juga
melalui seluruh subyek pelajaran serta seluruh komponen atau faktor pendidikan.
Bahkan dalam sistem ini, subyek Pendidikan Agama Islam sangat mungkin tidak
diberikan secara khusus karena seluruh aspek subyek pelajaran tersebut dapat
diintegrasikan ke dalam subyek pelajaran atau faktor pendidikan yang lain.
Dengan
demikian, dalam sistem ini semua guru harus memiliki kepribadian Muslim dan
sekaligus mampu menanamkan nilai-nilai keislaman melalui subyek pelajaran yang
dia punya. Karena merupakan sistem pendidikan alternatif, maka secara
kelembagaan Pendidikan Islam tidak ada dalam sistem pendidikan kita.
Pendidikan
Keislaman merupakan salah satu macam pendidikan Keagamaan, yakni pendidikan
yang secara khusus dimaksudkan untuk memberikan bekal profesional dibidang
keagamaan kepada peserta didik.
Pendidikan
ini diselenggarakan dalam rangka untuk mempersiapkan peserta didik agar kelak
mampu mengemban tugas yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang
ajaran agama Islam. Dengan demikian, ilmu-ilmu keislaman yang di ajarkan melalui
subyek pelajaran. Pendidikan Agama Islam merupakan bekal untuk memberikan
kualifikasi yang harus dimiliki oleh mereka setelah selesai mengikuti
pendidikan tersebut. Karena itu, materi ilmu-ilmu keislaman merupakan materi
pokok yang diajarkan dalam pendidikan ini.
Sesuai dengan tujuan
Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Nasional bahwa keberadaan Aqidah dan
Akhlak sudah menjadi keharusan bagi umat khususnya untuk lembaga dalam proses
mengajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam dimana dan kapan
saja, karena Aqidah merupakan keyakinan-keyakinan yang benar terhadap hal-hal
yang harus di Imani, sehingga tercermin dalam sikap dan tingkah lakunya
sehari-hari, demikian juga Akhlak yang merupakan petunjuk untuk mencapai
perbuatan baik serta menghindarkan diri dari perbuatan buruk.
Permasalahan
yang terjadi dalam berbagai segi kehidupan manusia yang terwujud dalam berbagai
tingkah laku : seperti pelanggaran, pencurian, perampokan, perjudian,
pemerkosaan, dan yang lebih serius lagi adalah gencarnya pemakaian narkoba di
kalangan anak didik. Perbuatan seperti itu sangatlah merusak masa depan bangsa.
Terjadinya
permasalahan tersebut dikarenakan rendahnya Akhlak mereka, karena itu upaya
pembinaan dan peningkatan Akhlak penting. Pendidikan Aqidah Akhlak dapat
digunakan sebagai barometer (alat ukur) pribadi seseorang. Apabila yang menjadi
ukuran itu dari faktor dalam diri manusia, maka tekanannya adalah akal, pikiran dan suara
hati, kalau alat pengukur akhlak itu harus universal.
Seseorang
tidak harus menggunakan alat ukur untuk mengetahui akhlak orang lain, tetapi
kita harus mengetahui terlebih dahulu akhlak yang kita miliki, sehingga kita
mampu mengetahui baik buruknya akhlak seseorang dengan memahami akhlak yang
kita miliki, bahkan dapat pula mengetahui sempurna atau tidaknya iman
seseorang. Dengan kata lain makin sempurna Akhlaknya makin sempurna pula iman
seseorang dan sebaliknya makin rusak iman makin rusak pula iman seseorang,
seperti hadits berikut :
Orang
mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang baik akhlaknya. (HR.
Ahmad).
Membina akhlak merupakan bagian yang sangat penting dalam tujuan pendidikan
nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional
adalah untuk mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung
jawab.
Akan tetapi hal ini tidak relevan
dengan tujuan pendidikan yang mana
banyak tindakan kriminal yang dilakukan para anak didik dan seringnya
terjadi tawuran antar pelajar disinyalir
sebagai akibat dari ketidakberhasilan pembinaan akhlak dan budi pekerti pada
siswa. Kegagalan pembinaan akhlak akan menimbulkan masalah yang sangat besar,
bukan saja pada kehidupan bangsa saat ini tetapi juga masa yang akan datang ini
pada posisi yang sangat penting, bahkan membina akhlak merupakan inti dari
ajaran Islam.
Menurut kepala
sekolah SDN I Cigadog Bpk. Didin Kamiludin, S.Pd.SD mengatakan faktor yang menjadi
penyebab terjadinya kenakalan anak didik yaitu terletak diantara guru, siswa, dan orang tua,
tetapi harus diteliti dimana letak kekurangan mereka, karena mereka saling
berkaitan satu sama lain dan saling menunjang untuk tercapainya proses belajar
mengajar yang sempurna baik pelajaran umum maupun pelajaran aqidah akhlak itu
sendiri. Faktor yang melatar belakanginya yaitu:
1.
Longgarnya pegangan terhadap agama,
dengan longgarnya pegangan nilai-nilai agama dalam diri seseorang maka
hilanglah kekuatan pengontrol dalam diri orang tersebut.
2.
Kurangnya interaksi guru akidah akhlak dengan siswa siswi di SDN I Cigadog.
3.
Kurang efektifnya pembinaan aqidah
dan akhlak yang dilakukan oleh orang tua, sekolah, maupun masyarakat.
4.
Kurangnya tepatnya metode pembelajaran guru akidah akhlak dalam proses
pembelajaran di SDN I Cigadog
5.
Kurangnya kerjasama antara guru dengan orang tua.
6.
Faktor ekonomi keluarga sehingga anak mencuri
7.
Kurangnya minat terhadap pembelajaran akidah dan akhlak
8.
Dampak kurang pengawasan intensif
terhadap perkembangan dan kemajuan IPTEK
Pendidikan
Agama Islam khususnya pendidikan Aqidah Akhlak yang telah diterapkan dalam
program Pendidikan Nasional boleh dikatakan kurang berhasil. Dengan bukti makin
banyaknya kerusakan moral yang terjadi dikalangan anak
didik.
Hal ini terjadi karena beberapa sebab diantaranya:
1.
Kurang atau minimnya waktu
pelaksanaan pendidikan agama Islam yang diberikan, khususnya materi
pembelajaran Aqidah Akhlak, padahal pembelajaran Aqidah Akhlak mempunyai
pengaruh yang besar terhadap perilaku peserta didik. Karena pembelajaran Aqidah
Akhlak menyangkut pembiasaan sikap atau perilaku yang baik yang telah menjadi
tujuan Pendidikan Nasional dan Pendidikan Agama Islam,
2.
Tentang proses pembelajaran Aqidah
Akhlak di sekolah, dimana norma-norma Aqidah Akhlak yang telah diformulasikan
dalam teori-teori tidak dapat dijabarkan dalam langkah-langkah nyata, hal ini
sangatlah memprihatinkan terhadap perkembangan perilaku siswa.
Guru pendidikan
agama Islam merupakan salah satu ujung tombak yang menjadi tumpuan harapan
masyarakat, bangsa dan negara dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam di
sekolah. Hal ini menandakan bahwa kunci keberhasilan pendidikan agama Islam di
sekolah berada di tangan guru pendidikan agama Islam.
Banyak upaya yang dilakukan guru
dalam aplikasinya yaitu untuk menekan kenakalan siswa upaya yang dilakukan
seorang guru yaitu dengan melakukan upaya atau tindakan yang bersifat atau
bertujuan untuk mencegah timbulnya kenakalan, namun pada kenyataannya masih
tetap saja banyak keluhan pada setiap lembaga pendidikan berkaitan dengan
masalah kenakalan siswa, begitu pula dilembaga pendidikan SDN I Cigadog, yang
mana telah banyak memberikan pendidikan agama kepada siswa-siswinya tetapi
tetap saja sering terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan sekolah
dan tingkah laku siswa yang menyimpang seperti bolos sekolah, mencuri, suka
mengganggu teman, mengucapkan kata-kata kotor. Oleh karena itu guru aqidah
akhlak mempunyai peran penting dalam mengatasi kenakalan siswa dan membantu
dalam pembinaan kepribadian siswa. Berangkat dari uraian di atas serta melihat
kenyataan yang demikian itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
dengan tema”Upaya Guru Aqidah
Akhlak Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa Di SDN I Cigadog”
B. Identifikasi masalah
Berdasarkan uraian latar belakang
masalah diatas, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.
Longgarnya pegangan terhadap agama,
dengan longgarnya pegangan nilai-nilai agama dalam diri seseorang maka
hilanglah kekuatan pengontrol dalam diri orang tersebut.
2.
Kurangnya interaksi guru akidah akhlak dengan siswa siswi di SDN I Cigadog.
3.
Kurang efektifnya pembinaan aqidah
dan akhlak yang dilakukan oleh orang tua, dan guru.
4.
Kurangnya tepatnya metode pembelajaran guru akidah akhlak dalam proses
pembelajaran di SDN I Cigadog
5.
Kurangnya kerjasama antara guru dengan orang tua.
6.
Faktor ekonomi keluarga.
7.
Kurang sukanya siswa terhadap pembelajaran akidak dan akhlak
8.
Dampak kurang pengawasan intensif
terhadap perkembangan dan kemajuan IPTEK
C. Pembatasan Masalah.
Untuk memperoleh pemantapan dan tempat berpijak dalam
pembahasan serta menghindari kesalahpahaman terhadap judul
yang dimaksud, maka penulis membatasi dari beberapa masalah menjadi tiga
masalah yang akan di bahas dlam judul profosal ini.
1. Kurang efektifnya pembinaan aqidah
dan akhlak yang dilakukan oleh guru dan orang tua.
2.
Kurangnya tepatnya metode pembelajaran guru akidah akhlak dalam proses
pembelajaran di SDN I Cigadog
D. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara pembinaan
yang efektif yang dilakukan oleh guru akidah akhlak dan orang tua terhadap siswa siswi di SDN I Cigadog ?
2. Bagaimana metode
yang tepat dalam mengatasi kenakalan siswa siswi yang ada di SDN I Cigadog?
E.
Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis bertujuan untuk mengetahui tentang
:
1.
Untuk mengetahui Aktivitas
siswa dalam proses belajar mengajar Akidah Akhlak di SDN I Cigadog;
2.
Untuk mengetahui kondisi akhlak
siswa sehari-hari di SDN I Cigadog;
3.
Untuk mengetahui
hubungan antara Aktivitas
siswa dalam proses
belajar mengajar Akidah Akhlak
dengan akhlak anak
didik di SDN
I Cigadog;
F.
Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian dalam proposal skripsi ini
adalah:
1.
Bagi Peneliti:
a.
Sebagai
proses pembelajaran bagi peneliti dalam menambah ilmu pengetahuan serta wawasan
keilmuan, dan pendidikan pada umumnya, sekaligus untuk mengembangkan
pengetahuan penulis dengan landasan dan kerangka teoritis yang ilmiah atau
pengintegrasian ilmu pengetahuan dengan praktek serta melatih diri dalam research
ilmiah.
b.
Untuk
memenuhi tugas dan sebagai bahan penyusunan skripsi serta ujian munaqosyah yang
merupakan tugas akhir penulis untuk memperoleh gelar sarjana Strata satu (S1)
pada jurusan Pendidikan Agama Islam STAIM Garut.
2.
Bagi Obyek
Penelitian
a.
Sebagai
sumbangan pemikiran ke dalam dunia pendidikan khususnya di SDN I Cigadog .
b. Sebagai bahan masukan dalam rangka peningkatan
mutu pendidikan sekaligus peningkatan akhlak siswa di SDN I Cigadog.
c. Sebagai bahan evaluasi terhadap kurikulum yang
ditetapkan di SDN I Cigadog .
3. Sebagai bahan Sebagai sumbangan kepada STAIM Garut, khususnya
kepada perpustakaan sebagai bahan bac aan yang bersifat ilmiah dan sebagai
kontribusi khazanah intelektual pendidikan.
G.
Kerangka Pemikiran
Dalam dunia pendidikan ada yang dinamakan
proses kegiatan belajar mengajar. Dari dua ungkapan belajar dan mengajar akan
terlintas ada murid dan guru. Dua komponen ini lah akan mengahsilkan interaksi
belajar mengajar, logika sederhana mengatakan: ada murid, tetapi tidak ada guru
proses belajar dan mengajar tidak akan tercapai begitu juga sebaliknya.
Hal itu dipertegas oleh Mohammad Ali. (1987:1), mengatakan: "mengajar merupakan inti dari proses
pendidikan, sementara pengajaran merupakan inti dari proses belajar siswa,
karena itu keduanya tidak bisa dipisahkan, artinya guru tidak bisa dipisahkan
dengan murid”. Berdasarkan ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa ada guru dan
murid berarti ada pengajaran atau ada materi yang diberikan oleh guru kepada
murid. Namun persoalannya bagaimana materi pelajaran itu bisa diterima
dihadapan murid sebagai aktivitas dalam menuntut ilmu dan berakhlak?
Aktivitas menurut kamus bahasa
Indonesia Pendidikan Pengajaran dan umum diartikan sebagai kegiatan, kesibukan. Aktivitas adalah kerja, semacam kegiatan
seseorang baik yang bersifat fisik jasmani maupun bersifat rohani.
Kaitanya dengan proses belajar
mengajar bahwa proses belajar mengajar ini merupakan dua proses atau kegiatan
yang tidak bisa dipisahkan. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah
suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik,
sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melukan proses belajar.
Pada tahap berikutnya adalah proses memberikan bimbingan dan bantuan kepada
anak didik dalam melakukan proses belajar.
Secara etimologi, kata akhlak
berasal dari bahasa Arab ( (أخــلاقbentuk jamak mufrodnya khuluk
(خلق), yang berarti “budi
pekerti”. Akhlak secara bahasa diartikan sebagai
perangai, tabi’at, adat, atau sistem perilaku yang dibuat. Istilah budi pekerti sering kali dipersamakan
dengan istilah sopan santun, susila, moral, etika, adab atau akhlak. Kesemua
istilah itu memiliki makna yang sama, yaitu sikap, perilaku, dan tindakan
individu yang mengacu pada norma baik-buruk dalam hubungannya dengan sesama
individu, anggota keluarga, masyarakat, hidup berbangsa, bernegara bahkan
sebagai umat beragama, yang bertujuan untuk kebaikan dan peningkatan kualitas
diri dalam mengarugi kehidupan sehari-hari.
Pembinaan akhlak merupakan tujuan
terpenting dari pendidkan agama Islam. Rasul sendiri diutus kedunia ini untuk
menyempurnakan akhlak sebagaimana beliau bersabda dalam hadistnya yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
انـّـمـا بعـت
لأتـمـّـم مـكارم الأخــلاق
“Sesunggunya Aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan
akhlak”
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai
makhluk yang mempunyai potensi yang dapat menjadikannya sebagai makhluk yang
paling sempurna. Namun tak dapat dipungkiri bahwa selain membawa potensi yang
baik, manusia juga diciptakan dengan membawa potensi negative yang dapat
menjadikan dirinya sama dengan binatang bahkan lebih rendah dari binatang.
Salah satu fakta yang menyebabkan
degradasi akhlak di kalangan siswa ini adalah kurangnya pembinaan akhlak terhadap
mereka. Hal ini mendorong para pendidik untuk secara intensif membina akhlak
remaja baik di lingkungan keluarga, masyarakat, atau pun sekolah-sekolah umum,
termasuk di lembaga pendidikan umum dan kejuruan.
Menurut Al-Ghazali yang pendapatnya
dikutip oleh Hamzah Ya’qub, “ Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa
yang dari padanya timbul perbuata-perbuatan dengan mudah, dengan tidak
memerlukan pertimbangan pemikiran (lebih dahulu). Ibnu Maskawih yang dikutip
oleh Abudin Nata. (1997:3), menjelaskan:
“memberikan batasan akhlak dengan gerak jiwa yang mendorong kearah
melakukan perbuatan dengan tidak menghajatan fikiran”.
Akhlak dalam tataran konsep praktis
dikehidupan sehari-hari selalu dikaitkan dengan etika. Kata yang cukup dekat “etika”
adalah “moral”. Sebagian orang
berpandangan bahwa moral merupakan tataran aplikasi dari akhlak seseorang. Kata
terahir ini berasal dari bahasa Latin Mos (jamak :Mores) yang
berarti juga kebiasaan, adat. Dalam bahasa Inggris dan bahasa lain, termasuk
dalam bahasa Indonesia (pertama kali dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
1988) kata mores masih dipakai dalam arti yang sama. Jadi, etimologi
kata “etika” sama dengan etimologi kata “moral”, karena keduanya berasal dari
adat kebiasaan. Hanya bahasa asalnya berbeda : yang pertama berasal dari bahasa
Yunani, sedangkan yang kedua dari bahasa Latin.
Etika dijelaskan dengan membedakan
tiga arti, yaitu :
1. Ilmu
tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
(akhlah);
2. Kumpulan
asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
3. Nilai
mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
Akhlak adalah perbuatan, tindak
tanduk seseorang yang dilakukan dengan mudah tanpa banyak pertimbangan, dengan
lancar tanpa merasa sulit ia lakukan. Sehingga perbuatan dan tindak tanduk yang
dilakukan dengan terpaksa atau merasa berat untuk berbuat belumlah dikatakan
akhlak. Orang yang baik akhlaknya ialah yang bersikap
lapang dada, peramah, pandai bergaul, tidak menyakiti orang lain, lurus benar,
tidak berdusta, sedikit berbicara banyak kerja, sabar (tabah) dalam perjuangan,
tahu berterimakasih, di percaya, tidak memfitnah, tidak dengki, baik dengan
tetangga, kata-kata dan perbuatanya disenangi orang lain..
Kata akhlak berarti budi pekerti,
dalam kehidupan sehari-hari budi pekerti memang mempunyai peran yang amat
penting bagi manusia, baik bagi pribadi maupun orang lain. Jadi yang dimaksud
akhlak disini adalah prilaku sopan santun siswa yang merupakan realisasi hasil
proses belajar mengajar. Syari’at Islam tidak dapat dihayati dan diamalkan
kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus di didik melalui proses pendidikan.
Nabi SAW telah mengajarkan untuk beriman dan beramal serta berakhlak yang baik
sesuai dengan ajaran Islam. Tujuan dari pendidikan ini adalah membina insan
paripurna yang taqarub kepada Allah, bahagia di dunia dan akhirat .
Berdasarkan uraian diatas, penulis
sampaikan bahwa indikator perilaku akhlak siswa meliputi : 1) Akhlak terhadap
Allah, yang meliputi : taqwa, berdo’a, ikhlas, dan ridhlo. 2) Akhlak terhadap
sesama manusia, yang meliputi : ishlah, saling tolong menolong, ukhuwah atau
persaudaraan, menjenguk orang yang sakit. 3) Akhlak terhadap diri sendiri, yang
meliputi : wafa, tawadlu, muru’ah .
H.
Hipotesis
Hipotesis adalah suatu jawaban yang
bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui
data yang terkumpul. Apabila para peneliti telah mendalami permasalahan
penelitianya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, lalu membuat suatu
teori sementara, yang kebenarannya masih perlu diuji (dibawah kebenaran),
inilah hipotesis.
Hipotesis
pada Penelitian kualitatif adalah hipotesis non-statistik, tidak membutuhkan
pengujian statistik bersifat sementara dan dapat berubah-ubah sewaktu
pengumpulan dan analisis data. Penelitian kualitatif dilakukan apabila kurang atau tidak ada teori
yang mendukung suatu penelitian, yang dilakukan adalah mencari tahu teori
terlebih dulu melalui penelitian kualitatif, tidak didasarkan atas teori yang
kuat, hipotesis
dapat dicantumkan atau tidak karena sudah dapat diambil alih oleh rumusan
masalah dan tidak perlu pembuktian statistik apakah diterima atau ditolak. Salah satu ciri
penelitian kualitatif adalah tidak dapat digeneralisasikan, tidak bisa
diberlakukan secara universal.
I.
Langkah-Langkah Penelitian
Dalam penelitian ini penulis akan menempuh
langkah-langkah sebagai berikut :
a.
Menetukan Jenis data
Data
hasil pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta ataupun angka. Dari sumber SK
Menteri P dan K No. 0259/U/1977, tanggal 11 Juli 1977 disebutkan bahwa: “Data
adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu
informasi, sedangkan informasi adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk
suatu keperluan.”
Dalam
pengertian lain disebutkan data adalah suatu hal yang diperoleh di lapangan
ketika melakukan penelitian dan belum diolah. Dengan pengertian lain segala
keterangan mengenai variable yang diteliti di sebut data, suatu hal yang dianggap atau diketahui.Data menurut jenisnya
dibagi menjadi dua:
a) Data
Kualitatif
Yaitu
data yang disajikan dalam bentuk kata verbal, bukan dalam bentuk angka. Data
inilah yang menjadi data primer (utama) dalam penelitian ini. Yang termasuk
data kualitatif adalah:
1) Gambaran umum SDN I
Cigadog;
2) Konsep Kurikulum SDN I
Cigadog;
3)
Literatur-literatur
mengenai Kurikulum SDN I Cigadog dan peningkatan akhlak siswa;
4) Gambaran tentang kebiasaan siswa dalam sehari-harinya;
5) Dokumen-dokumen tertulis yang berhubungan dengan
penelitian penulis.
b) Data
Kuantitatif
Yaitu data yang berbentuk angka statistik. Dalam penelitian ini data
statistik hanya bersifat data pelengkap, jenis data ini
didapatkan dari isian angket.
b.
Menentukan Sumber Data
Arikunto menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sumber
data adalah “subyek dari mana data diperoleh”. Sedangkan menurut Lofland sumber
data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya
adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber
data utama dicatat melalui catatan tertulis.
Menurut
sumber data dalam penelitian ini, data dibedakan menjadi dua macam yakni:
a) Sumber
Data Primer
Yaitu sumber yang langsung memberikan data kepada
peneliti, di antaranya adalah:
1) Kepala SDN I Cigadog .
2) Wakil Kepala dan bidang Kurikulum SDN I Cigadog .
3) Guru mata Pelajaran Akidah Akhlak.
4) Segenap siswa SDN I
Cigadog.
b) Data
Sekunder
Yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti,
seperti dokumentasi mengenai kurikulum, dan literatur-literatur mengenai pendidikan dan peningkatan
akhlak siswa. Sedangkan untuk
landasan teoritiknya penulis menggunakan buku yang relevan dengan masalah
penelitian serta dapat mengungkapkan teori-teori yang ada kaitanya
dengan penelitian.
Adapun sumber- sumber data tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu : Person ; Place ; Paper.
1)
Person yaitu sumber data yang bias memberikan data berupa jawaban
lisan melalui wawancara atau interview . Yang termasuk sumber data ini adalah
kepala sekolah , Guru aqidah akhlak , siswa , serta semua pihak yang terkait
dengan kegiatan pembelajaran pendidikan agama islam .
2)
Place yaitu Sumber data ini dapat memberikan gambaran situasi ,
kondisi , pembelajaran yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam
penelitian Misalnya : gedung sekolah ,
ruang kelas , masjid atau musholla sekolah .
3)
Paper yaitu Sumber data yang menyajikan data – data berupa huruf , angka , gambar , dan symbol – symbol
yang lain. Data ini diperoleh melalui metode dokumentasi yaitu berupa : daftar
guru dan arsip yang masih relevan dengan penelitian ini .
Sumber
data nomor satu dan dua merupakan sumber data yang bersifat umum, karena
menghasilkan data berupa kata-kata dan pelaku atau tindakan, sedangkan sumber
data yang nomor tiga merupakan sumber data tambahan, karena untuk memperoleh
data dirinya diperlukan metode dokumentasi.Dari ketiganya penulis jadikan
sebagai sumber utama yang dituangkan dalam catatan tertulis untuk kemudian
disajikan dalam skripsi sebagai hasil usaha gabungan hasil melihat, mendengar,
bertanya dan mencatat untuk memperkaya data. Hal tersebut dilakukan secara sadar
dan terarah, karena memang dari berbagai macam informasi yang tersedia tidak
seluruhnya akan digali oleh peneliti.
Adapun jenis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah:
1.
Kata- kata dan Tindakan
Data yang berbentuk kata-
kata ini diambil dari para responden atau informan pada waktu kegiatan
wawancara langsung. Jadi data ini berupa keterangan dari para responden atau
informan.
Sedangkan data yang berbentuk tindakan,
diperoleh dari kegiatan observasi yang mengamati tentang bagaimana Aktivitas Siswa
Dalam Proses Pembelajaran Aqidah Akhlak di SDN I Cigadog.
2.
Data Tertulis
Data yang berbentuk
tulisan ini diperoleh dari pihak SDN
I Cigadog, yang tentunya berkaitan dengan subyek
penelitian, yaitu tentang Bentuk-bentuk
Akhlak Peserta Didik yang ada di SDN I Cigadog
beserta faktor-faktor yang melatar belakangi kenakalan tersebut.
Data dalam penelitian ini adalah semua data atau informasi yang diperoleh
dari para informan yang dianggap paling mengetahui secara rinci dan jelas mengenai
focus penelitian yang diteliti. Selain itu, data juga diperoleh dari hasil
dokumentasi yang menunjang terhadap data yang berbentuk kata-kata tertulis
maupun tindakan.
Dalam penelitian ini, peneliti
akan mengeksplorasi jenis data kualitatif yang terkait dengan masing-masing
focus penelitian yang sedang diamati. Sumber data dalam penelitian ini ialah
terkait dengan dari mana data tersebut diperoleh. Data ini dapat diperoleh
dari guru-guru terutama guru aqidah akhlak, siswa, dan sumber-sumber lain yang dimungkinkan dapat memberikan informasi.
c.
Tehnik
Pengumpulan Data
Dalam
suatu penelitian selalu ada prosedur pengumpulan data dan data tersebut
terdapat bermacam-macam jenis metode. Jenis metode yang digunakan dalam
pengumpulan data disesuaikan dengan sifat penelitian yang dilakukan. Untuk
memperoleh data yang sebanyak-banyaknya kemudian disajikan dalam skripsi dengan
pendekatan kualitatif yang berisi kutipan-kutipan data, maka peneliti telah
menentukan tempat penelitian yang telah ditentukan dengan menerapkan teknik
pengumpulan data sebagai berikut.
a.
Metode observasi
Metode observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap
gejala yang tampak pada obyek penelitian. Adapun pengertian lain observasi
atau pengamatan adalah kegiatan
keseharian manusia dengan menggunakan panca indra maka sebagai alat bantu
utamanya selain panca indra lainnya, seperti telinga, dan mulut, kulit dan
lain-lain, yang dimaksud metode observasi yaitu metode pengumpulan data yang
digunakan untuk menghimpun data penelitian, data penelitian tersebut dapat
diamati oleh peneliti. Observasi juga diartikan sebagai suatu pengamatan dan
pencatatan dengan fenomena yang diselidiki, dalam arti luas sebenarnya
observasi tidak hanya terbatas pada keadaan pengamatan secara lagsung.Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi
tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam kenyataan.
Menurut Guba dan Lincoln yang dikutip Moleong metode ini dimanfaatkan
karena beberapa alasan , yaitu :
1. teknik pengamatan ini
didasarkan atas pengalaman secara langsung
2. teknik pengamatan juga
memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan
kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
3. pengamatan memungkinkan
peneliti mencatat
peristiwa dalm situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proposional maupun
pengetahuan yang langsung diperoleh data.
4. sering terjadi ada keraguan
pada peneliti , jangan pada data yang dijaringnya ada yang “keliru “ atau bias.
5. teknik pengamatan
memungkinkan peneliti mampu memahami situasi – situasi yang rumit.
6. dalam kasus-kasus tertebtu
dimana teknik komunikasi lainnya tidak
memungkinkan , pengamatan menjadi alat yang sangat bermanfaat . Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data
tentang keadaan sekolah, sarana dan prasarana pendidikan dan lain-lain yang
berkaitan dengan riset. Peneliti menggunakan teknik ini karena memungkinkan
bagi peneliti untuk melihat dan mengamati sendiri fenomena-fenomena yang
terjadi di lapangan dan memudahkan dalam bentuk tulisan. Dengan komunikasi dan
interaksi, peneliti mendapatkan kesempatan untuk mengetahui kebiasaan dan
aktifitas subyek, sehingga tidak dianggap orang asing, melainkan sudah warga
sendiri. Dengan metode observasi ini, peneliti semakin dekat dengan subyek yang
diteliti.
b.
Metode interview/ wawancara
Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara
dengan responden orang yang diwawancarai. Interview atau wawancara merupakan
cara pengumpulan data degan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan
sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penelitian.[21] Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang
menghendaki komunikasi langsung antara peneliti dengan subyek. Dalam wawancara
biasanya terjadi tanya jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan
berpijak pada tujuan penelitian. Menurut Suharsimi
Arikunto metode interview dibagi menjadi 3 macam:
1.
Interview bebas (Ingaudet
interview), dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi mengingat
juga akan data apa yang akan dikumpulkan.
2.
Interview terpimpin ( guidet
interview), yaitu interview yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa
sedretan pertanyaaan lengkap dan terperinci seperti yang dimaksudkan dalam
interview instruktur.
3.
Interview bebas terpimpin,
yaitu kombinasi antara interview bebas dan interview terpimpin. Dalam
melaksanakan pewawancara menbawa pedoman yang hanya garis besar tentang hal-hal
yang akan ditanyakan.
Berdasarkan dengan tiga metode interview
diatas, maka peneliti dalam melaksanakan penelitian menggunakan metode
interview bebas terpimpin, yaitu peneliti membawa pedoman yang hanya merupakan
garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan yang ada kaitannya dengan fokus penelitian. Melalui tehnik
wawancara, peneliti mengadakan komunikasi langsung dan melakukan tanya jawab
kepada kepala sekolah, guru, dan siswa untuk memperdalam informasi yang
diperoleh dari tehnik pengumpulan data yang lain. Metode ini untuk memperoleh
informasi tentang kenakalan siswa dan upaya menanggulangi kenakaln siswa di SDN
I Cigadog. Pengajuan pertanyaan dilakukan secara bebas kepada subyek menuju
fokus penelitian dan dilakukan dalam suasana biasa sehingga tidak telihat kaku.
Setelah selesai wawancara, peneliti menyusun hasil wawancara sebagai hasil
catatan dasar sekaligus abstraksi untuk keperluan analisis data. Wawancara ini
peneliti tujukan kepada siswa yang bertingkah laku baik dan buruk, juga guru
aqidah akhlak yang melakukan internalisasi nilai-nilai akhlak.
Dalam hal ini, penulis berinteraksi langsung
dengan guru dan murid serta pihak-pihak yang terkait dengan fokus penelitian
guna memperoleh data, sehingga validitas data tersebut akurat.
c.
Catatan lapangan
Dalam
penelitian kualitatif, peneliti dianjurkan membuat field note agar tidak
lupa terhadap data yang diperoleh. Bogdan dan Biklen menyatakan sebagaimana
yang dikutip Ahmad Tanzeh dan Suyitno, bahwa catatan lapangan adalah catatan
tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam
rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif yang didalamnya mengandalkan metode observasi dan
interview dalam pngumpulan data, peneliti dianjurkan membuat field note agar
tidak lupa terhadap data yang diperoleh. Maka peneliti selalu membuat fild note
setiap melakukan metode penelitian, terutama hasil interview dan wawancara.
Catatan
lapangan dimaksudkan untuk melengkapi data yang tidak terekam dalam instrumen
pengumpulan data yang ada. Dengan demikian diharapkan tidak ada data penting
yang terlewatkan dalam kegiatan penelitian ini.
d.
Metode dokumentasi
Dokumentsi
yaitu mengumpulkan data dengan melihat atau mencatat suatu laporan yang sudah tersedia. Adapun pengertian lain dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkip buku, surat kabar dan lain-lain.
Metode
dokumentasi untuk dijadikan alat pengumpul data dari sumber bahan tertulis yang
terdiri dari dokumen resmi. Peneliti mencatat dan memfotocophi dokumen yang
berkaitan dengan data yang diperlukan kemudian penelitin mengumpulkan data-data
yang diperoleh antara lain struktur organisasi sekolah, geografis sekolah
keadaan guru, keadaan siswa denah lokasi, dan lain-lain yang berkaitan dengan
judul skripsi ini. Dokumen dikumpulkan baik dari dokumen pribadi seperti
catatan maupun dokumen resmi di lokasi penelitian (sekolah).
4.
Tehnik Analisa Data
Analisis
data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu
pola, kategorisasi dan satuan uraian dasar. Sementara itu Bogdan dan Biklen
mengemukakan, sebagaimana yang dikutip Ahmad Tanzeh dan Suyitno, bahwa analisa
data adalah “Proses pencarian dan pengaturan secara sistematik hasil wawancara,
catatan-catatan dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman
terhadap semua hal yang dikumpulkan dan menyajikan apa yang ditemukan”. Hal ini
diperkuat dengan pendapat noeng muhadjir yang mana mengungkapkan analisis data
merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi,
wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang
diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Sedangkan untuk
meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya
mencari makna (meaning).
Miles
dan Huberman mengatakan sebagaimana dikutip Ahmad Tanzeh dan Suyitno, analisis
data interaktif (interaktif model) terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi
secara bersamaan yaitu : (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan
kesimpulan. Ketiga alur tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:
a.
Reduksi Data
Data
yang diperoleh peneliti dari lapangan jumlahnya cukup banyak untuk itu perlu dicatat lebih teliti dan rinci. Semakin
lama peneliti terjun kelapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks
dan rumit.
Miles
dan Huberman mengatakan, sebagaimana dikutip Ahmad Tanzeh dan Suyitno, reduksi
data merupakan suatu kegiatan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan,
pengabstrakan dan transformasi data mentah yang didapat dari catatan-catatan
yang tertulis di lapangan. Maka dari itu
dapat disimpulkan bahwa reduksi data berlangsung terus–menerus selama
penelitian.
Setelah
itu disederhanakan, disusun secara sistematis dan dijabarkan hal-hal yang
penting tentang hasil temuan dan maknanya. Dalam proses reduksi data ini,
banyak data temuan yang berkenaan dengan masalah penelitian saja yang dipakai.
Sedangkan data yang tidak relevan dengan masalah penelitian dibuang. Dengan
kata lain reduksi data merupakan analisis yang menggolongkan, menajamkan,
mendengarkan, membuang yang tidak penting dan menggorganisasikan data sehingga
memudahkan peneliti dalam menarik kesimpulan. Data yang penulis peroleh
dilapangan, penulis pilih dan kelompokkan sesuai dengan fokus penelitian
sehingga data akan lebih mudah dipahami dan dimengerti hingga akhir data dapat
disajikan dengan baik.
b.
Penyajian data
Proses
penyajian data ini merupakan proses penyusunan informasi secara sistematis yang
memberikan kemungkinan ditarik kesimpulan. yang mana kesimpulan tersebut merupakan
hasil temuan penelitian karena data yang didapat berupa kata-kata atau kalimat
yang berhubungan dengan fokus penelitian.
Dalam
penelitian ini data yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian singkat dan
teks bersifat naratif. Karena dalam
penelitian ini, data yang didapat berupa kalimat, kata-kata yang berhubungan
dengan fokus penelitian, sehingga sajian data merupakan sekumpulan informasi
yang tersusun secara sistematis yang memberikan kemungkinan untuk ditarik
kesimpulan. Dengan kata lain, proses penyajian ini merupakan proses penyusunan
informasi secara sistematis dalam rangka memperoleh kesimpulan-kesimpulan
berbagai temuan penelitian.
c.
Penarikan kesimpulan
Penarikan
kesimpulan dilakukan pada saat analisis
data yang berlangsung secara terus menerus selesai dikerjakan, baik yang
berlangsung di lapangan maupun setelah selesai di lapangan. Untuk mengarah pada
hasil kesimpulan ini tentunya berdasarkan hasil analisis data, baik yang
berasal dari catatan lapangan, observasi, dokumentasi dan lain-lain yang
didapatkan pada saat melaksanakan kegiatan lapangan. Metode yang terakhir
digunakan adalah metode komparatif, yaitu "metode yang digunakan untuk
membandingkan data-data dari keterangan yang berkaitan dengan permasalahan
kemudian ditarik kesimpulan".
Analisis deskriptif dalam penelitian ini adalah berisi kutipan-kutipan data
untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data berasal dari naskah
wawancara, catatan lapangan, foto, dokumentasi pribadi, dan dokumentasi resmi
lainya. Jadi pada penelitian ini, peneliti akan menganalisis data yang telah
ditentukan tersebut dengan menggunakan pertanyaan dengan kata tanya “apakah”,
“apa”, “kapan” dan “bagaimana” akan dipakai oleh peneliti. Dengan demikian,
peneliti tidak memandang bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya.
Adapun langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam
pengumpulkan data adalah sebagai berikut:
1)
Membuat ringkasan dan mengedit
hasil wawancara sementara. Jadi setiap melakukan wawancara dengan siswa, guru
atau yang lainya, maka kemudian hasilnya diringkas dan diedit mana yang
sekiranya dan sudah sesuai.
2)
Mengembangkan pertanyaan selama
wawancara. Jadi setiap pertanyaan dalam wawancara, selalu peneliti kembangkan
guna menggali data yang lebih dalam.
3)
Mempertegas focus penelitian.
Selama penelitian, penulis selalu memperhatikan focus penelitian, hal ini
bertujuan agar setiap data yang dikumpulkan tetap dalam lingkup focus
penelitian ataupun sesuai dengan focus penelitian.
Dengan menggunakan metode-metode
tersebut data yang telah terkumpul dianalisis. Dalam tahapan analisa ini penulis berusaha untuk
menarik kesimpulan terhadap data-data yang diperoleh dari lokasi selama
penelitian berlangsung. Dengan tahap ini diharapkan dapat menjawab semua
masalah yang telah dirumuskan dalam fokus penelitian yang telah ditetapkan
sebelumnya.

0 komentar
Posting Komentar